Sejarah

Peta Prenggan tahun 1926. Sumber: maps.library.leiden.edu

 

Keberadaan Prenggan setidaknya dapat dijumpai dalam artikel surat kabar Java-Bode No. 83 Tahun ke-27 tertanggal 9 April 1878. Berdasarkan peta yang dibuat oleh Topografischen Dienst tahun 1923-1924 wilayah Pringgan (Prenggan) dibatasi oleh Klitren di sebelah utara, Kebowan di sebelah timur, Ponggalan di sebelah selatan, dan Tegalgendu di sebelah barat. Di dalam Alphabetisch register van de administratieve (bestuurs-) en adatrechtelijke indeeling van ede land ch- ndi Deel I: Java en Madoera, Prenggan tercatat sebagai sebuah desa di Onderdistrik Kotagede, Distrik Kota Gede Djocja, Regentschap Bantul, Afdeeling Djocjakarta, Gewest Djocjakarta. Sekarang Prenggan merujuk pada nama sebuah kampung sekaligus kelurahan yang secara administratif masuk ke dalam Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


 

 

KAMPUNG PRENGGAN

 

Terdapat 3 (tiga) versi yang berkaitan dengan toponimi atau asal usul nama Prenggan.

Pertama, Prenggan didapat dari nama salah satu anak dari Panembahan Senopati yaitu Pringgalaya. Pringgalaya adalah putra Panembahan Senopati dengan istri yang berasal dari Madiun. Meskipun kemudian masih perlu untuk dikaji karena masih ada area lain yang bernama Pringgolayan tepatnya berada di wilayah Kecamatan Banguntapan, Bantul, karena pendapat ini terbantahkan dengan melihat peta wilayah Kotagede yang dibuat oleh Topografischen Dienst tahun 1923-1924 koleksi KITLV. Dalam peta tersebut selain Pringgan [Prenggan] juga terdapat daerah bernama Pringgolayan di sebelah timur Gedongan dan Basen. Dari diksinya nama Pringgalaya lebih selaras dengan Pringgolayan daripada Prenggan sehingga dapat disimpulkan bahwa asal-usul Kampung Prenggan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kediaman Pangeran Pringgalaya.

Kedua, Prenggan berasal dari kata dasar rangga, yang diberi imbuhan pa- dan –an menjadi pa- rangga-an dan lebur sehingga penyebutannya menjadi prenggan. Kata rangga merujuk pada tempat tinggal Raden Rangga yaitu putra Panembahan Senapati. Raden Rangga adalah yang memiliki kekuatan linuwih serta kekebalan tubuh.

Ketiga, Prenggan dari pa-rangga-an, ama Prenggan diambil dari kata “rêngga” yang mengalami proses afiksasi dengan penambahan konfiks {pa-} dan {-an}: {pa-} + {rêngga} + {-an} parênggaan, tetapi karena /a+a/ /a/ maka menjadi parênggan dan karena huruf ‘a’ luluh sehingga menjadi prênggan). Poerwadarminta dalam kamus Bausastra Jawa (1939) menyebutkan kata di- rênggayang artinya dipajang/dipamerkan, dirias agar tampak indah (dipajang, dipacak murih katon endah). Konon, kampung ini dahulu dihuni oleh para abdi dalem yang diserahi tugas untuk menghias keraton ketika ada acara.


 

KAMPUNG TINALAN

 

Nama kampung Tinalan bermuasal dari kata “tinalang” yang telah mengalami abreviasi kata. “Tinalang” berasal dari kata dasar “talang” yang mendapat infiks “in”. Dalam kamus Bausastra Jawa (Poerwadarminta, 1939), “talang” berarti urung-urung (ilèn-ilèn) sing digawe pring, sèng lsp. kanggo ngilèkake banyu udan lsp atau saluran (aliran) yang dibuat dari bambu, sèng, dan sebagainya untuk mengalirkan air hujan dan sebagainya. JavaanschNederduitsch Woordenboek (1947) karya J.F.C. Gericke dan T. Roorda juga memaknai kata “talang” dengan definisi yang hampir sama, yakni pipa dimana air mengalir, tabung, pipa air (pijp waardoor water vloeit, buis, waterleiding). Menurut tradisi lisan yang ada di masyarakat Kampung Tinalan, sebelum berubah menjadi permukiman warga seperti sekarang, daerah ini menjadi tempat pembuangan air melalui pipa-pipa dari bambu. Pada zaman dahulu merupakan hal yang lazim menggunakan bambu-bambu sebagai pipa untuk mengalirkan air dari sungai atau sumber air lainnya ke tempat lainnya.

Lokasi Kampung Tinalan diperkirakan ada di bekas jagang pertahanan kerajaan Mataram Islam. Berdasarkan peta yang dibuat oleh Topografischen Dienst tahun 1923-1924 wilayah Tinalan dibatasi oleh Winong di sisi barat, Pilahan di sisi utara, Gedongan di sisi timur, dan Klitren di sisi selatan. Sekarang, kampung yang berada di sebelah barat laut Pasar Gede ini secara administratif masuk ke dalam Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede. Dalam hal kesenian, warga Kampung Tinalan masih melestarikan kesenian gejok lesung. Kesenian purba ini berupa instrumen musik dengan menggunakan penumbuk padi tradisional yang berkembang di masyarakat agraris di Yogyakarta.


 

 

KAMPUNG TEGALGENDU

 

Ada dua pendapat terkait toponimi Kampung Tegalgendhu. Pertama, asal muasal nama Kampung Tegalgendhu yang didasarkan pada kisah perjalanan Ki Ageng Mangir menemui Panembahan Senapati, penguasa Kerajaan Mataram Islam. Tegalgendhu disini terdiri dari kata “têgal” dan “gendhu”. “Têgal” yang dalam Bahasa Jawa berarti ladang, dalam kamus Bausastra Jawa (Poerwadarminta, 1939) bermakna tanah yang ditanami palawija dan sebagainya tanpa digenangi air (palêmahan sing ditanduri palawija lsp. tanpa diêlêbi banyu). Adapun kata “gendhu” berasal dari kata “gendha-gendhu” yang dalam Bahasa Jawa artinya ragu-ragu (Haditama, 2010: 36 dalam Istiani, 2012: 119). Konon menurut cerita pada waktu Ki Ageng Mangir dalam perjalanan menemui Panembahan Senopati, di suatu tempat (tegalan) ia merasa gundah dan ragu tetapi ia jalan terus, tempat tersebut kemudian disebut Tegalgendu (Gupta, 20017: 113).

Ki Ageng Mangir menurut cerita tutur yang yang diceritakan turun-temurun dalam masyarakat Jawa adalah pemimpin di tanah perdikan Mangir yang tidak mau tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Mataram Islam. Oleh karena itu, Panembahan Senapati memerintahkan putrinya, Sekar Pembayun, untuk mencari kelemahan dari Ki Ageng Mangir agar Panembahan Senapati dapat menundukkannya. Sekar Pembayun kemudian menyamar sebagai penari keliling. Pada suatu hari mereka bertemu dan Ki Ageng Mangir jatuh cinta kepada Sekar Pembayun sehingga akhirnya mereka menikah. Setelah Sekar Pembayun hamil beberapa bulan, barulah ia memberi tahu kepada Ki Ageng Mangir bahwa Panembahan Senapati adalah ayahnya dan ia mengajaknya untuk datang menghadap ke Mataram. Mau tidak mau Ki Ageng Mangir menuruti kemauan istrinya itu. Pada saat menghadap Panembahan Senapati ia kedapatan membawa senjata sehingga kepalanya kemudian dibenturkan oleh Panembahan Senapati di singgasananya karena dianggap sebagai suatu tindakan makar terhadap Mataram. Bekas benturan kepala Ki Ageng Mangir itu sekarang masih dapat dilihat di Situs Watu Gilang yang terletak 20meter sebelah tenggara dari kompleks Makam Raja-Raja Mataram.

Kedua, Tegalgendu berasal dari kata “gagendhu” yang artinya keturunan orang kaya karena dalam realitanya memang dahulu wilayah ini dihuni oleh orang-orang Kalang yang notabene merupakan pedagang atau pengusaha emas/perak yang kaya raya (blegedhu/ blegendhu) (Yudodiprojo, 1991: 20 dalam Gupta, 2007: 113). Menurut Mutiah Amini dalam tulisannya yang berjudul “Dari Poro Hingga Paketik: Aktivitas Ekonomi Orang Kalang di Kotagede Pada Masa Depresi 1930” (Jurnal Humaniora, Vol. 18, 2 Juni 2006: 159), orang Kalang sebenarnya juga orang Jawa (etnis Jawa), sama seperti penduduk Kotagede pada umumnya, tetapi orang Kalang yang tinggal di Kotagede sebagaimana orang Kalang yang tinggal di tempat-tempat lain di Jawa, hidup secara eksluf [eksklusif] sehingga mereka dianggap seperti orang “asing”. Di Kotagede, keberadaan orang-orang Kalang saat ini hanya dapat dijumpai dari peninggalan-peninggalan mereka yang berupa rumah yang berjejer di sekitar Tegalgendu (Amini dalam Jurnal Humaniora, Vol. 18, 2 Juni 2006: 160). Rumah-rumah Kalang yang masih tersisa, diantaranya adalah Rumah Kalang BH Noerijah di sisi barat Jalan Tegalgendu.

 

Referensi
Sulistryowati, Nur Aini, dkk. 2019, Toponim Kota Yogyakarta, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Jakarta
Tim Peneliti PSK UGM, 2020, Toponimi Kecamatan Kotagede: Sejarah Dan Asal Usul nama- Nama Kampung, Pusat Studi Kebudayaan Universitas, Gadjah Mada. Yogyakarta
Jayanti, Arum, 2021, Toponimi Nama-Nama Kampung di Kotagede, Jurnal Batra, Bahasa Dan Sastra. https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/batra/article/download/3412/1635, diunduh tanggal 20 November 2021, pukul 12.38 WIB.